BELUM JADI
Sebuah bacaan bahasa
Yang menyinggung perasaan
Tak lain penyajian puisi
Yang tak layak di baca
Tapi menjadi ungkapan jiwa
Dan rasa yang begitu dalam
Memang tulisan jelek
Bolpen biru yang “ elek “
Tapi keinginan itu
Akan ada
Selalu !
Selalu !
Di kolbu
Di jiwa
Di darahku
Dan di fikiranku
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny
BUNGA BETARUK API
Hari mulai larut di tengah malam
Udara dingin tak menghambat dia kerja
Yang dianggap halal.....
Dengan rockmini melambung naik turun
Di pejeng keramaian kota......
Pesona kharisma karena mek’ap
Yang berani tuturkan pengguna jalan
Dengan rokok di tangan dan senyum merayu sendu
Tak peduli siapa yang menghalangi
Demi si jantung hatinya dia terus jalani
Di sebrang rumput tinggi dia beraksi
Dengan langganan yang mulai memuji
Tibalah yang dia rindukan
Tepat sehabis subuh menghitung hasil untuk makan
Namun kata-kata dusta merayapi pertanya’an si buah hati
Meski dia terus jalani
Namun tangisan hati tiap melanda bunga bertaruk api
Bunga yang kiap merintih di hidup si kecil
Namun kelak dia kan tahu..............
TEMANGGUNG
13-10-2009
Salman Al Fanny
BACALAH
Bentuknya sexsi
Cemerlang suaranya merdu
Hitam kecoklatan belakangnya
Depan yang sangat bermakna
Lehernya panjang dan berseni
Kepalanya akan di terima maupun diapain aja
Lehernya selalu di helai
Sebab lembut,sebab sexsi
Di tengahnya ada lubang
Bila sudah masuk sungkan keluar
Tak bisa ku bayangkan
Bila aku kehilangan
Dia menumbuhkan inspirasi
Dia tampilan nafsu
Dia pelampiasan rasa
Manis,indah,suka
Sebab dia gitar
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny
CACING MANIA
Jika matahari tidur
Kawan pergi terbirit
Luluhkan sayap malaikat
Jatuh ke neraka mati sekejap
Gallery kematian di limbah pemakaman
Bertaruk pertarungan setan dan iblis
Berhenti marahnya api
Tapi semangat hancur
Badut di trotoar
Carikan uang haram
Jambret manusia pemabuk
Antara music sertai ke gilaan
Bersama bisa kuat
Bersama hancur
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny
CAHAYA
Kekesalan,kehampaan,kebohongan
Kerap aku lontarkan
Di bukit-bukit kehidupan
Dan aku teriakan
Belati hitam
Aku buang di tengah hutan
Aku kubur dalam-dalam
Dan aku injak injak
Aku berteriak
Dimana aku bisa menepi
Dimana aku bisa mendaki
Dimana aku bisa mengerti
Jalan lurus yang tak berkelok
Jalan panjang yang lebar penuh dengan terjal
Aku menanti, aku meminta, aku mengemis
Demi cahaya yang menerangi kolbu
Yang menjadikan pedoman di zaman kemunafikan
Dan menarik di zaman kehancuran
Cahaya bantu aku di dalam kematian
TEMANGGUNG
04-03-2010
Salman Al Fanny
DENGUNG KATA-KATA DALAM HATI
Kesalahan terjadi besar
Dengung manja kini tak ada
Diam ucapan berarti
Kata-kata dalam hati
Sesaat kesalahan menangisi
Fikiran yang tertuju ke pusat kembali
Pertanyaan kenapa benci semoga tak terjadi
Di balik bayang-bayang wajah
Cinta kini tetap sama
Lalu begitu kenapa malu
Fikirmu ke pada ilmu
Namun hatimu kepada aku
Semua tahu bila bicara
Tapi cukup kata hati
Aku sudah mengerti
TEMANGGUNG
18-01-2010
Salman Al Fanny
DENTING JAM MALAM HARI
Malam hari ini
Tiada kasih yang kau berikan
Hati terduduk merintih
Dingin semilir tanpa engkau
Hati ini terasa pasrah di jiwa kelabu
Hinggap celotehan setan yang menemaniku
Dengan pemikiran negativ karena tanpamu
Tanpamu di sisiku
Maafkan aku
Karena telah meragukanmu
Meragukan semua benak kasih rindu yang engkau berikan
Hingga tumbuh kasih sayang cinta yang sangat mendalam
Hingga menumbuhkan kemesraan dalam jiwaku
Namun hingga fajar esok
Semua benak benci amarah yang memerah
Akan hilang di beku air cintaku padamu
Maafkan aku atas pemikiran yang dibusukin iblis dan pemikiran negativ
tentang dirimu........
tentang dirimu........
TEMANGGUNG
21-10-2009
Salman Al Fanny
DI BUKA PERTANYAAN ITU
Hei perempuan
yang menawan
di balik pertanyaan
munculah embun dalam hati
Kenapa kau memandang
dengan mata manarik
yang buat hati gersang
seolah aku ada, seolah tertarik
Semakin lama bersama
hati ingin memegang rembulan
yang berada dalam hati kamu
dan seolah buat aku
Tapi bila dekat
hati takut terucap
tapi bila jauh
rindu ingin bertemu
Apakah itu yang dinamakan cinta ?
Tak biasanya aku begini
Mungkin ini pertama kalinya
membangunkan cahaya dalam hatiku
yang lama telah ku tutup
karena pernah dilukai
semoga ini tak terjadi kali ini
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny
DI HATI
Cinta sesaat menghadangku setiap waktu
namun aku berharap kali ini bukan itu
Di Hati ini ku dambakan cinta sesungguhnya
senandu nada kerap aku berikan untuk itu
Perasaan membubung hati yang gelisah
sejuta kata dalam fikiran
tak jauh selalu menemani aku di waktu senggang
merenung sesaat untuk cinta
Di situ.......
Di Hatiku ?
memang cinta sangat indah mesti sedikit kemungkinan
tuk tak sedih di masa ini
Tapi janganlah berganti......
janganlah berganti.........
tetaplah seperti ini,
seperti indahnya pelangi di esok hari
Di sinilah cinta itu......
Di Hati
di dalam hati
di dalam hati ini
TEMANGGUNG
12-10-2009
Salman Al Fanny
DIDIK KASIHMU BERADA DI SINI
Seluruh tawa yang ada di kalbu
Semangat yang melambung di angkasa
Dengan benang-benang rerumputan
Yang tertiup angin di ladang hijau
dan bertuliskan keindahan bunga
Duduk berdua di batu air
Dengan kemerucuk mengalir cahaya
Yang menemani kita
dikala senja
Alam bernyanyi seolah jadikan nyata
Semua tentang mimpi di kenangan
Kenangan prasasti tersendiri
dan didik kasihmu berada di sini
Di langit dan di bumi
TEMANGGUNG
01-02-2010
Salman Al Fanny
GUNTING
Gunting
Bentuknya yang ku lihat kuning
Bila kena mata bola mata mengriting
Tapi bagi lapisan kepala
Gunting sangat berharga
Membuat kenikmatan sempurna
Tapi bila beli
Harga bercekcok mesti terjadi
Dipasar pojok swalayan jualan teri
Di cari………!
Mesti guntingpun jadi
Dengan lenkuk sebagai cirri khas
Yang menjadi sepasang besi yang berarti
Di dalam semua terdapat setetes embun
Yang kita masukan di otak
Dengan kesadaran bukan kepaksaan
Karena buih tidak akan menjadi emas……
Tanpa petunjuk kasih sayang.
TEMANGGNUNG
17-02-2010 edit version
Salman Al Fanny
HITAM
Keadaan di tangan
yang aku genggam
matahari yang menerangi
dan bulan menapsiri
Malam yang dingin
kini aku ubah jadi hangat
dengan di terangi dian
dan bimbang di hanyutkan
Kini hitam menjadi putih
dank ku cambukan badan ini
untuk menghilangkan darah
darah yang tercampur Lumpur
Aku sirami badan ini
ke laut biru yang besar
dengan senandung aku lontarkan
biar hilang, terbakar, lenyap
dan tumbuh “aku yang baru”
TEMANGGUNG
27-01-2010
Salman Al Fanny
HITAM ( LALU )
Kenangan kelabu yang mendekam
Dengan sesal yang mendalam
Terjepit para napi
Pohon tak acuh padaku
Dengung suara suara
Kehidupan itu …………..
Membuatku merintih
Akan segala dosaku
Fajar pun jenuh lihat tingkahku
Bulanpun muak akan jeleknya mata
Mata hati,mata batin
Yang beku …………
Hanya yang tergores luka-luka
Yang kelak ku hempaskan ke dada mereka
Bibir berucap,keluar lintah yang menggrogoti mu
Janji-janji yang aku dustai
Biar hitam terposok sudah
Lupakan semua titik zona merah
Goyahanpun menjadi bukti
Tentang penjelasan yang aku pelajari
Kini aku belajar
Tentang roda berputar
TEMANGGUNG
21-11-2009
Salman Al Fanny
IBU
Di runtun hijau daun bambu
aku menangis sedu
dengan ungkap tanya dan rindu
tentang sebuah doa di balik cintamu
Kasih sembunmu tak kan tergantikan
hingga tetesan air matamu penuh darah
tak dapat aku bayangkan.............
didik kasihmu suci di dalam hati
demi si buah hatimu ini
si buah hatimu ini .............
Oh sangat menyedihkan
bila aku tak dapat membahagiakan kamu
meski semua yang ku berikan tak sebanyak lautan kasih sayang
yang engkau berikan
Matahari kian menyinariku
panas yang ku rasakan
meski aku telah lari dari ufuk timur sampai ufuk barat
tapi engkau !
tapi engkau mampu memberikan teduhan bagaikan sejuk semilir angin
Meski hati darah bercucuran dari luka yang ku berikan
seperti hati yang tebal dari silet yang kerap aku coletkan
namun engkau tetap tabah dan sabar
meski apa yang aku berikan tak sepantasnya buat dirimu
namun engkau selalu berusaha memaafkan
Ibu maafkan anakmu ini yang terlalu sombong tentang kasih sayangmu
ibu maafkan aku atas derung peluru yang menembus dadamu karena aku
karena aku ibu !
ibu tangisan engkau bagaikan hujan dan gempa dalam jiwa ini ibu
jiwa ini ibu
hinggaplah semua kesalahanku kepadamu ibu
dan semua dosa bertaruk neraka telah ada di dalam jiwaku
jiwaku......
jiwaku ibu !
meski tuturkataku yang seharusnya ku locehkan kepadamu sejak dulu
Dengan penyesalan tak terhingga aku berucap
maaf ibu
TEMANGGUNG
21-10-2009
Salman Al Fanny
ITUTO ARTI
Kaki tiap kesal
kesenangan yang datang
bahagia terpuruk di sana
emosi lauk sehari-hari
Tapi............
sama-sama cari nasi
tapi kok nyuri
tapi kenapa...........
sama-sama cari kerja
tapi kok di PHK
Balas !
balas
balas budi jadinya sengsara
makan seadanya malah meraja lela
Lawan......!
lawan !
lawan kok malah mati
TEMANGGUNG
juli 2009
Salman Al Fanny
JAM
Merah nyawa kamu
Pendek hitam selalu di perhatikan
Panjang tangan dan kaki kamu
Terkadang bunyi teriakan ku dengar
Terkadang Cuma suara “ tik “
Apa maksud kamu…?
Jika kedua jiwa kamu
Telah terambil dari punggungmu
Kau akan mati
Dicampakan
Disimpan
Atau dibuang
Sebab kau hidup tak berarti
Matipun tak berarti
Tapi kenapa….!
Kau semangat terus berjalan
Langkahmu tak pernah putus asa
Di hatimu hanya ada kata
“ jangan menyerah “……!
Sebab kau buatan tangan
Yang berhati hitam
Kamu kujadikan kumpulan jam
TEMANGGUNG
17-02-2005
Salman Al Fanny
Kau
Kau sungguh berharga bagi diriku
Kau selalu ku genggam di tanganku
Kau selalu menhangatkan tubuhku
Kau dan aku selalu bersatu
Setiap aku kedinginan kau membantu
Kau berwarna hitam dan biru
Kaulah kaos tanganku
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny
KAU
ku ingin semua berkata
kebenaranmu yang tercipta
oleh angina dan udara
dari bukit yang tinggi
sehingga akan kau rasa
siapa yang mengarang cerita
dongeng jenaka kemunafikan
yang mengada-ada namun fakta
lihat diriku dirimu
dengan mata hati
kreksi dosa-dosamu
ternyata banyak yang tahu
boleh aku tahu semua …………..
TEMANGGUNG
19-01-2010
Salman Al Fanny
KITA VS MEREKA
Jangan bicara tentang nasionalisme
Karena kita perlu ingat warna bendera
Yang telah di simpan di hati kita
Bukan mereka………
Darah yang selalu menuturkan keadilan
Yang bercerita tentang kemakmuran
Bukan kematian yang di cela-cela
Pendapat kita
Jangan paksa mahasiswa bingas
Yang meratap di teras gedung
Masyarakat………
Karena keringat kita akan membuat mereka muak
Jangan salahkan kita
Bila onani dan anarkis
Dengan emosi membela si urip
Yang di jalan menanti kepastian
Meski hidup ini di terik mentari
Namun tak percumah
Bila setiap senin kita hormat
Yang jadikan ibu pertiwi menjadi berani
Mereka yang jalang
Dengan pemakan uang
Yang bertanduk dan berbuntut api
TEMANGGUNG
15-02-2010
Salman Al Fanny
LUMPUR
Aku ingin tanam
tumbuhan hijau berlumpur
ku sirami dengan air
Lumpur hilang tubuh bugar
Terus tumbuh disitu
meski Lumpur kerap datang merayu
namun kan ku pupuk dan beri lampu
yang menerangi dan tumbuh baru
Darah yang melihat
ke laur dunia bebas
kerap ku coletkan silet dan pisau
Lumpur di badan akan hilang
dengan air darah …………
Meski rasa sakit mendalam
namun karma tersebut kesakitan
sebab lonceng,
sebab roda ingin berputar
TEMANGGUNG
27-01-2010
Salman Al Fanny
MANUSIA
Manusia terkadang nafsu dan akal tak seimbang
Manusia terkadang sombong oleh IA yang memberi segalanya
Manusia terkadang di beri cobaan
Manusia terkadang punya harapan
Manusia terkadang egois memuncak sampai ke tangan
Manusia terkadang bisa terluka
Manusia terkadang mati bila tak makan
Tapi manusia tak luput dari dosa
Tapi manusia mahluk istimewa
Tapi manusia mahluk bodoh yang bernyawa
Tapi manusia suka berfikir dengan otak
Bukan dengan mata
Bukan dengan tangan
Bukan dengan gigi
Bukan dengan jiwa
Bukan dengan kaki
Dan yang penting dengan hati
TEMANGGUNG
Salman Al Fanny