Statistik Penayangan

Rabu, 05 Januari 2011

Antologi Puisi "BUKAN PUISI DEWA"

BELUM JADI


Sebuah bacaan bahasa
Yang menyinggung perasaan
Tak lain penyajian puisi
Yang tak layak di baca
Tapi menjadi ungkapan jiwa
Dan rasa yang begitu dalam

Memang tulisan jelek
Bolpen biru yang “ elek “

Tapi keinginan itu
Akan ada
Selalu !
Selalu !
Di kolbu
Di jiwa
Di darahku
Dan di fikiranku


TEMANGGUNG
Salman Al Fanny


BUNGA BETARUK API



Hari mulai larut di tengah malam
Udara dingin tak menghambat dia kerja
Yang dianggap halal.....

Dengan rockmini melambung naik turun
Di pejeng keramaian kota......
Pesona kharisma karena mek’ap
Yang berani tuturkan pengguna jalan
Dengan rokok di tangan dan senyum merayu sendu

Tak peduli siapa yang menghalangi
Demi si jantung hatinya dia terus jalani
Di sebrang rumput tinggi dia beraksi
Dengan langganan yang mulai memuji

Tibalah yang dia rindukan
Tepat sehabis subuh menghitung hasil untuk makan
Namun kata-kata dusta merayapi pertanya’an si buah hati
Meski dia terus jalani
Namun tangisan hati tiap melanda bunga bertaruk api
Bunga yang kiap merintih di hidup si kecil

Namun kelak dia kan tahu..............




TEMANGGUNG
13-10-2009
Salman Al Fanny




BACALAH


Bentuknya sexsi
Cemerlang suaranya merdu
Hitam kecoklatan belakangnya
Depan yang sangat bermakna

Lehernya panjang dan berseni
Kepalanya akan di terima maupun diapain aja
Lehernya selalu di helai
Sebab lembut,sebab sexsi

Di tengahnya ada lubang
Bila sudah masuk sungkan keluar
Tak bisa ku bayangkan
Bila aku kehilangan

Dia menumbuhkan inspirasi
Dia tampilan nafsu
Dia pelampiasan rasa
Manis,indah,suka

Sebab dia gitar

TEMANGGUNG
Salman Al Fanny



CACING MANIA

Jika matahari tidur
Kawan pergi terbirit
Luluhkan sayap malaikat
Jatuh ke neraka mati sekejap

Gallery kematian di limbah pemakaman
Bertaruk pertarungan setan dan iblis
Berhenti marahnya api
Tapi semangat hancur

Badut di trotoar
Carikan uang haram
Jambret manusia pemabuk
Antara music sertai ke gilaan

Bersama bisa kuat
Bersama hancur

TEMANGGUNG
Salman Al Fanny



CAHAYA

Kekesalan,kehampaan,kebohongan
Kerap aku lontarkan
Di bukit-bukit kehidupan
Dan aku teriakan

Belati hitam
Aku buang di tengah hutan
Aku kubur dalam-dalam
Dan aku injak injak

Aku berteriak
Dimana aku bisa menepi
Dimana aku bisa mendaki
Dimana aku bisa mengerti

Jalan lurus yang tak berkelok
Jalan panjang yang lebar penuh dengan terjal
Aku menanti, aku meminta, aku mengemis
Demi cahaya yang menerangi kolbu
Yang menjadikan pedoman di zaman kemunafikan
Dan menarik di zaman kehancuran
Cahaya bantu aku di dalam kematian

TEMANGGUNG
04-03-2010
Salman Al Fanny




DENGUNG KATA-KATA DALAM HATI



Kesalahan terjadi besar
Dengung manja kini tak ada
Diam ucapan berarti
Kata-kata dalam hati


Sesaat kesalahan menangisi
Fikiran yang tertuju ke pusat kembali
Pertanyaan kenapa benci semoga tak terjadi
Di balik bayang-bayang wajah


Cinta kini tetap sama
Lalu begitu kenapa malu
Fikirmu ke pada ilmu
Namun hatimu kepada aku


Semua tahu bila bicara
Tapi cukup kata hati
Aku sudah mengerti





TEMANGGUNG
18-01-2010
Salman Al Fanny




DENTING JAM MALAM HARI




Malam hari ini
Tiada kasih yang kau berikan
Hati terduduk merintih
Dingin semilir tanpa engkau


Hati ini terasa pasrah di jiwa kelabu
Hinggap celotehan setan yang menemaniku
Dengan pemikiran negativ karena tanpamu
Tanpamu di sisiku

Maafkan aku
Karena telah meragukanmu
Meragukan semua benak kasih rindu yang engkau berikan
Hingga tumbuh kasih sayang cinta yang sangat mendalam
Hingga menumbuhkan kemesraan dalam jiwaku


Namun hingga fajar esok
Semua benak benci amarah yang memerah
Akan hilang di beku air cintaku padamu

Maafkan aku atas pemikiran yang dibusukin iblis dan pemikiran negativ
tentang dirimu........
tentang dirimu........



TEMANGGUNG
21-10-2009
Salman Al Fanny





DI BUKA PERTANYAAN ITU


Hei perempuan
yang menawan
di balik pertanyaan
munculah embun dalam hati

Kenapa kau memandang
dengan mata manarik
yang buat hati gersang
seolah aku ada, seolah tertarik

Semakin lama bersama
hati ingin memegang rembulan
yang berada dalam hati kamu
dan seolah buat aku

Tapi bila dekat
hati takut terucap
tapi bila jauh
rindu ingin bertemu

Apakah itu yang dinamakan cinta ?
Tak biasanya aku begini
Mungkin ini pertama kalinya
membangunkan cahaya dalam hatiku
yang lama telah ku tutup
karena pernah dilukai
semoga ini tak terjadi kali ini




TEMANGGUNG
Salman Al Fanny





DI HATI



Cinta sesaat menghadangku setiap waktu
namun aku berharap kali ini bukan itu
Di Hati ini ku dambakan cinta sesungguhnya
senandu nada kerap aku berikan untuk itu

Perasaan membubung hati yang gelisah
sejuta kata dalam fikiran
tak jauh selalu menemani aku di waktu senggang
merenung sesaat untuk cinta

Di situ.......
Di Hatiku ?
memang cinta sangat indah mesti sedikit kemungkinan
tuk tak sedih di masa ini

Tapi janganlah berganti......
janganlah berganti.........
tetaplah seperti ini,
seperti indahnya pelangi di esok hari

Di sinilah cinta itu......
Di Hati
di dalam hati
di dalam hati ini




TEMANGGUNG
12-10-2009
Salman Al Fanny






DIDIK KASIHMU BERADA DI SINI


Seluruh tawa yang ada di kalbu
Semangat yang melambung di angkasa
Dengan benang-benang rerumputan
Yang tertiup angin di ladang hijau
dan bertuliskan keindahan bunga


Duduk berdua di batu air
Dengan kemerucuk mengalir cahaya
Yang menemani kita
dikala senja


Alam bernyanyi seolah jadikan nyata
Semua tentang mimpi di kenangan
Kenangan prasasti tersendiri
dan didik kasihmu berada di sini

Di langit dan di bumi




TEMANGGUNG
01-02-2010
Salman Al Fanny





GUNTING

Gunting
Bentuknya yang ku lihat kuning
Bila kena mata bola mata mengriting
Tapi bagi lapisan kepala
Gunting sangat berharga
Membuat kenikmatan sempurna

Tapi bila beli
Harga bercekcok mesti terjadi
Dipasar pojok swalayan jualan teri
Di cari………!
Mesti guntingpun jadi


Dengan lenkuk sebagai cirri khas
Yang menjadi sepasang besi yang berarti
Di dalam semua terdapat setetes embun
Yang kita masukan di otak
Dengan kesadaran bukan kepaksaan

Karena buih tidak akan menjadi emas……
Tanpa petunjuk kasih sayang.


TEMANGGNUNG
17-02-2010 edit version
Salman Al Fanny





HITAM



Keadaan di tangan
yang aku genggam
matahari yang menerangi
dan bulan menapsiri


Malam yang dingin
kini aku ubah jadi hangat
dengan di terangi dian
dan bimbang di hanyutkan


Kini hitam menjadi putih
dank ku cambukan badan ini
untuk menghilangkan darah
darah yang tercampur Lumpur


Aku sirami badan ini
ke laut biru yang besar
dengan senandung aku lontarkan
biar hilang, terbakar, lenyap
dan tumbuh “aku yang baru”



TEMANGGUNG
27-01-2010
Salman Al Fanny







HITAM ( LALU )

Kenangan kelabu yang mendekam
Dengan sesal yang mendalam
Terjepit para napi
Pohon tak acuh padaku


Dengung suara suara
Kehidupan itu …………..
Membuatku merintih
Akan segala dosaku

Fajar pun jenuh lihat tingkahku
Bulanpun muak akan jeleknya mata
Mata hati,mata batin
Yang beku …………

Hanya yang tergores luka-luka
Yang kelak ku hempaskan ke dada mereka
Bibir berucap,keluar lintah yang menggrogoti mu
Janji-janji yang aku dustai

Biar hitam terposok sudah
Lupakan semua titik zona merah
Goyahanpun menjadi bukti
Tentang penjelasan yang aku pelajari

Kini aku belajar
Tentang roda berputar


TEMANGGUNG
21-11-2009
Salman Al Fanny







IBU



Di runtun hijau daun bambu
aku menangis sedu
dengan ungkap tanya dan rindu
tentang sebuah doa di balik cintamu

Kasih sembunmu tak kan tergantikan
hingga tetesan air matamu penuh darah
tak dapat aku bayangkan.............
didik kasihmu suci di dalam hati
demi si buah hatimu ini
si buah hatimu ini .............

Oh sangat menyedihkan
bila aku tak dapat membahagiakan kamu
meski semua yang ku berikan tak sebanyak lautan kasih sayang
yang engkau berikan

Matahari kian menyinariku
panas yang ku rasakan
meski aku telah lari dari ufuk timur sampai ufuk barat
tapi engkau !
tapi engkau mampu memberikan teduhan bagaikan sejuk semilir angin

Meski hati darah bercucuran dari luka yang ku berikan
seperti hati yang tebal dari silet yang kerap aku coletkan
namun engkau tetap tabah dan sabar
meski apa yang aku berikan tak sepantasnya buat dirimu
namun engkau selalu berusaha memaafkan

Ibu maafkan anakmu ini yang terlalu sombong tentang kasih sayangmu
ibu maafkan aku atas derung peluru yang menembus dadamu karena aku
karena aku ibu !
ibu tangisan engkau bagaikan hujan dan gempa dalam jiwa ini ibu
jiwa ini ibu
hinggaplah semua kesalahanku kepadamu ibu
dan semua dosa bertaruk neraka telah ada di dalam jiwaku
jiwaku......
jiwaku ibu !
meski tuturkataku yang seharusnya ku locehkan kepadamu sejak dulu

Dengan penyesalan tak terhingga aku berucap
maaf ibu





TEMANGGUNG
21-10-2009
Salman Al Fanny






ITUTO ARTI


Kaki tiap kesal
kesenangan yang datang
bahagia terpuruk di sana
emosi lauk sehari-hari

Tapi............
sama-sama cari nasi
tapi kok nyuri
tapi kenapa...........
sama-sama cari kerja
tapi kok di PHK

Balas !
balas
balas budi jadinya sengsara
makan seadanya malah meraja lela

Lawan......!
lawan !
lawan kok malah mati





TEMANGGUNG
juli 2009
Salman Al Fanny






JAM



Merah nyawa kamu
Pendek hitam selalu di perhatikan
Panjang tangan dan kaki kamu

Terkadang bunyi teriakan ku dengar
Terkadang Cuma suara “ tik “
Apa maksud kamu…?
Jika kedua jiwa kamu
Telah terambil dari punggungmu

Kau akan mati
Dicampakan
Disimpan
Atau dibuang

Sebab kau hidup tak berarti
Matipun tak berarti
Tapi kenapa….!
Kau semangat terus berjalan
Langkahmu tak pernah putus asa
Di hatimu hanya ada kata
“ jangan menyerah “……!

Sebab kau buatan tangan
Yang berhati hitam
Kamu kujadikan kumpulan jam




TEMANGGUNG
17-02-2005
Salman Al Fanny





Kau


Kau sungguh berharga bagi diriku
Kau selalu ku genggam di tanganku
Kau selalu menhangatkan tubuhku
Kau dan aku selalu bersatu
Setiap aku kedinginan kau membantu
Kau berwarna hitam dan biru
Kaulah kaos tanganku


TEMANGGUNG
Salman Al Fanny





KAU



ku ingin semua berkata
kebenaranmu yang tercipta
oleh angina dan udara
dari bukit yang tinggi


sehingga akan kau rasa
siapa yang mengarang cerita
dongeng jenaka kemunafikan
yang mengada-ada namun fakta


lihat diriku dirimu
dengan mata hati
kreksi dosa-dosamu
ternyata banyak yang tahu


boleh aku tahu semua …………..



TEMANGGUNG
19-01-2010
Salman Al Fanny





KITA VS MEREKA


Jangan bicara tentang nasionalisme
Karena kita perlu ingat warna bendera
Yang telah di simpan di hati kita
Bukan mereka………


Darah yang selalu menuturkan keadilan
Yang bercerita tentang kemakmuran
Bukan kematian yang di cela-cela
Pendapat kita

Jangan paksa mahasiswa bingas
Yang meratap di teras gedung
Masyarakat………
Karena keringat kita akan membuat mereka muak

Jangan salahkan kita
Bila onani dan anarkis
Dengan emosi membela si urip
Yang di jalan menanti kepastian

Meski hidup ini di terik mentari
Namun tak percumah
Bila setiap senin kita hormat
Yang jadikan ibu pertiwi menjadi berani


Mereka yang jalang
Dengan pemakan uang
Yang bertanduk dan berbuntut api


TEMANGGUNG
15-02-2010
Salman Al Fanny






LUMPUR



Aku ingin tanam
tumbuhan hijau berlumpur
ku sirami dengan air
Lumpur hilang tubuh bugar


Terus tumbuh disitu
meski Lumpur kerap datang merayu
namun kan ku pupuk dan beri lampu
yang menerangi dan tumbuh baru


Darah yang melihat
ke laur dunia bebas
kerap ku coletkan silet dan pisau
Lumpur di badan akan hilang
dengan air darah …………


Meski rasa sakit mendalam
namun karma tersebut kesakitan
sebab lonceng,
sebab roda ingin berputar



TEMANGGUNG
27-01-2010
Salman Al Fanny






MANUSIA


Manusia terkadang nafsu dan akal tak seimbang
Manusia terkadang sombong oleh IA yang memberi segalanya
Manusia terkadang di beri cobaan
Manusia terkadang punya harapan
Manusia terkadang egois memuncak sampai ke tangan
Manusia terkadang bisa terluka
Manusia terkadang mati bila tak makan

Tapi manusia tak luput dari dosa
Tapi manusia mahluk istimewa
Tapi manusia mahluk bodoh yang bernyawa
Tapi manusia suka berfikir dengan otak
Bukan dengan mata
Bukan dengan tangan
Bukan dengan gigi
Bukan dengan jiwa
Bukan dengan kaki
Dan yang penting dengan hati



TEMANGGUNG
Salman Al Fanny

ADA APA DENGAN SAYA ?

ADA APA DENGAN SAYA ?



Lengkung hidup berkelok sepi
Berubah naik turun tak pasti
Kala waktu berdiri
Diantara air dan api

Sentuhan angin menuju angkasa
Putih kecil terang akan tiba
Dengan serentak kata-kata
Hati bicara bibir berhenti



Ungkapan disini hanya kenapa
Meski jawaban selalu bertanya
Ada apa dengan saya ?
Untuk cenderung dengan logika



Tetesan air mata
Yang tidak waktunya
Terbuang begitu saja
Dengan bertanya Tanya





TEMANGGUNG
18-01-2010
Salman Al Fanny